Bagian ini tidak hanya menampilkan daftar budaya, tetapi membaca bagaimana tradisi Bekasi bertahan, berubah, dan mencari ruang baru di tengah kota metropolitan.
Pertemuan Betawi, Sunda, dan kehidupan urban.
Budaya Bekasi tumbuh dari pertemuan. Ia menyerap Betawi, bersentuhan dengan Sunda, lalu bergerak bersama arus pendatang yang menjadikan kota ini rumah.
Silat, pantun, dan prosesi adat Betawi Bekasi.
Berebut Dandang dikenal sebagai tradisi dalam budaya Betawi Bekasi yang berkaitan dengan prosesi pernikahan, adu ketangkasan, pantun, dan simbol penerimaan keluarga.
Ritme bedug, arak-arakan, dan kebersamaan warga.
Adu Bedug dan Dondang memperlihatkan bagaimana bunyi, perayaan, dan ruang kampung menjadi bagian dari memori budaya Bekasi yang terus dicoba dilestarikan.
Jejak rawa, kali, sawah, dan kebiasaan mencari ikan.
Anco menggambarkan Bekasi tempo dulu yang dekat dengan air: rawa, persawahan, kali, dan kubangan. Ia menjadi simbol perubahan lanskap dari kampung agraris menuju kota urban.
Sadariah, kebaya encim, pangsi, dan busana hajatan.
Busana Betawi Bekasi dapat dibaca sebagai bagian dari kesopanan, silaturahmi, hajatan, dan identitas keluarga. Untuk website ini, busana ditampilkan sebagai representasi budaya, bukan klaim pakaian resmi pemerintah.
Lugas, jenaka, bercampur Betawi, Sunda, dan urban.
Bahasa sehari-hari orang Bekasi mencerminkan pertemuan budaya. Ada warna Betawi pinggiran, pengaruh Sunda, bahasa Indonesia urban, dan ekspresi khas warga kota penyangga metropolitan.